Logo FA Indonesia Logo FA Indonesia FA Indonesia FA Indonesia

Eksplor · Rumah Sakit

Cara Menghitung Unit Cost Rumah Sakit: Distribusi Ganda dan Contoh

Oleh Ananta W. Sasongko, CPA, FMVA, FPAP · 25 Oktober 2026 · 7 menit baca

Banyak direktur rumah sakit swasta tahu total biaya operasional per bulan, tapi tidak tahu berapa sebenarnya biaya satu hari rawat inap atau satu tindakan operasi. Padahal angka inilah yang dipakai untuk menetapkan tarif, menilai apakah klaim JKN menutup biaya, dan meyakinkan bank atau investor bahwa manajemen paham bisnisnya sendiri.

Unit cost rumah sakit (biaya satuan) adalah total biaya untuk menghasilkan satu unit layanan: satu hari rawat, satu kunjungan poliklinik, satu pemeriksaan laboratorium, atau satu tindakan. Artikel ini menjelaskan cara menghitungnya langkah demi langkah, lengkap dengan contoh angka.

Data yang Perlu Disiapkan Sebelum Menghitung Unit Cost

Perhitungan unit cost hanya sebaik data yang masuk. Kumpulkan data minimal 12 bulan terakhir agar pola musiman ikut terbaca.

  • Laporan keuangan dan buku besar: gaji, jasa medis, obat dan BMHP, listrik, air, sewa, pemeliharaan, penyusutan aset tetap (PSAK 216), dan biaya umum.
  • Data SDM per unit: jumlah pegawai dan jam kerja di setiap instalasi, termasuk dokter dan perawat.
  • Data aset per ruangan: luas lantai, daftar alat kesehatan dan nilai bukunya.
  • Data output layanan: hari rawat, kunjungan, jumlah tindakan, jumlah pemeriksaan, kilogram cucian, porsi makan.

Kalau laporan keuangan belum rapi atau belum diaudit, perbaiki dulu dasarnya. Panduan penyajiannya ada di artikel laporan keuangan rumah sakit swasta sesuai PSAK.

Langkah 1: Tetapkan Pusat Biaya (Cost Center)

Rumah sakit dibagi menjadi dua kelompok pusat biaya. Pusat biaya penunjang tidak menghasilkan pendapatan langsung, misalnya administrasi umum, keuangan, rekam medis, laundry, gizi, IPSRS, dan CSSD. Pusat biaya produksi (revenue center) melayani pasien dan menagih tarif, misalnya rawat inap, rawat jalan, IGD, kamar operasi, laboratorium, radiologi, dan farmasi.

Struktur pusat biaya sebaiknya mengikuti struktur organisasi dan chart of accounts. Kalau akun biaya belum bisa dipecah per unit, langkah pertama justru membenahi kode biaya di sistem akuntansi.

Langkah 2: Identifikasi Biaya Langsung per Unit

Biaya langsung adalah biaya yang jelas milik satu unit: gaji perawat ruang rawat inap, BMHP kamar operasi, reagen laboratorium, penyusutan alat radiologi. Obat dan BMHP yang ditagihkan terpisah ke pasien biasanya dikeluarkan dari unit cost jasa, lalu dihitung sendiri dengan margin farmasi.

Biaya bersama seperti listrik dan air dibagi memakai dasar yang masuk akal, misalnya luas lantai atau daya terpasang.

Langkah 3: Alokasikan Biaya Penunjang dengan Metode Distribusi

Ada tiga metode yang umum dipakai:

  1. Simple distribution: biaya penunjang langsung dibagi ke unit produksi. Mudah, tapi mengabaikan pelayanan antar unit penunjang.
  2. Step-down (distribusi bertahap): unit penunjang dialokasikan berurutan, mulai dari yang paling banyak melayani unit lain. Unit yang sudah dialokasikan tidak menerima alokasi lagi.
  3. Double distribution (distribusi ganda): pada distribusi pertama, biaya setiap unit penunjang dibagi ke semua unit lain, termasuk sesama penunjang. Pada distribusi kedua, biaya yang diterima unit penunjang dari unit penunjang lain dialokasikan ke unit produksi. Metode ini paling sering dipakai di rumah sakit Indonesia karena seimbang antara ketelitian dan kepraktisan.

Dasar alokasi (allocation base) harus mencerminkan pemicu biaya: jumlah pegawai untuk administrasi umum, kilogram cucian untuk laundry, porsi makan untuk gizi, jumlah work order untuk IPSRS.

Contoh Perhitungan Alokasi Biaya

Ilustrasi berikut memakai angka contoh untuk rumah sakit 100 tempat tidur, satu bulan, dalam jutaan rupiah. Agar mudah diikuti, hanya ada dua unit penunjang.

Pusat BiayaBiaya LangsungAlokasi Administrasi Umum (Dasar: Pegawai)Alokasi laundry dan gizi (dasar: kg cucian dan porsi)Total Biaya
Administrasi umum600(600)-0
Laundry dan gizi30060(360)0
Rawat inap9002402521.392
Rawat jalan40012018538
Kamar operasi5009072662
Laboratorium3009018408
Jumlah3.000003.000

Total biaya tidak berubah, hanya berpindah dari unit penunjang ke unit produksi. Kalau total setelah alokasi tidak sama dengan total awal, ada yang salah di lembar kerja.

Langkah 4: Hitung Unit Cost Rawat Inap per Hari

Total biaya rawat inap dibagi jumlah hari rawat. Dengan 100 tempat tidur dan BOR 80%, hari rawat sebulan sekitar 100 x 80% x 30 = 2.400 hari.

Unit cost rawat inap = Rp1.392 juta / 2.400 = sekitar Rp580.000 per hari rawat (contoh), di luar obat, BMHP, visite dokter, dan pemeriksaan penunjang yang ditagih terpisah.

Dalam praktik, angka ini perlu dipecah lagi per kelas perawatan (VIP, kelas 1, 2, 3 atau ruang KRIS) karena luas ruangan, rasio perawat, dan fasilitasnya berbeda. Dasar pemecahannya bisa luas lantai dan jam perawatan per pasien.

Langkah 5: Hitung Biaya Satuan per Tindakan dengan Activity-Based Costing

Membagi biaya kamar operasi dengan jumlah operasi menghasilkan rata-rata yang menyesatkan: operasi kecil terlihat terlalu mahal, operasi besar terlihat terlalu murah. Di sini activity-based costing (ABC) lebih tepat. Biaya dibebankan berdasarkan aktivitas yang benar-benar dikonsumsi, misalnya durasi pemakaian kamar operasi.

Kelompok Operasi (Contoh)Jumlah per BulanDurasi Rata-rataTotal JamUnit Cost per Tindakan
Operasi kecil801 jam80Rp1,84 juta
Operasi sedang802 jam160Rp3,68 juta
Operasi besar403 jam120Rp5,52 juta
Jumlah200360

Biaya per jam kamar operasi = Rp662 juta / 360 jam = sekitar Rp1,84 juta. Rata-rata sederhana akan memberi Rp3,31 juta untuk semua operasi, terlalu tinggi untuk operasi kecil dan terlalu rendah untuk operasi besar. Untuk laboratorium, prinsipnya sama: pemeriksaan dengan reagen mahal dan waktu analis lebih lama harus menanggung biaya lebih besar.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Penyusutan gedung dan alat tidak dimasukkan karena aset sudah lama atau dicatat di perusahaan lain milik pemilik.
  • Gaji dokter tetap dan jasa medis tercampur, sehingga biaya terhitung dua kali saat tarif disusun.
  • Memakai volume layanan saat rumah sakit sedang sepi atau sangat ramai, sehingga biaya tetap per unit melonjak atau terlalu kecil. Gunakan volume normal.
  • Unit cost dihitung sekali lalu tidak pernah di-update, padahal gaji, harga BMHP, dan volume berubah setiap tahun.

Setelah unit cost ada, langkah berikutnya adalah membandingkannya dengan tarif. Pembahasannya ada di unit cost vs tarif INA-CBG dan cara menghitung tarif layanan.

Bagaimana FA Indonesia Membantu

FA Indonesia membantu rumah sakit swasta menyusun model unit cost dari data keuangan dan operasional yang ada, menetapkan pusat biaya dan dasar alokasi, lalu memakainya untuk review tarif dan analisis klaim JKN. Setiap klien ditangani langsung oleh Ananta W. Sasongko, CPA, yang pernah mendampingi akuisisi tiga rumah sakit di Jawa Tengah dan pendanaan investor untuk grup rumah sakit. Detail layanannya ada di halaman konsultan unit cost rumah sakit.

Pertanyaan Umum

Apa bedanya unit cost dan tarif rumah sakit?
Unit cost adalah biaya untuk menghasilkan satu layanan, sedangkan tarif adalah harga yang ditagih ke pasien atau penjamin. Tarif disusun dari unit cost ditambah margin, lalu disesuaikan dengan daya beli pasar dan tarif pesaing.

Metode apa yang paling umum untuk menghitung unit cost rumah sakit?
Di Indonesia yang paling sering dipakai adalah metode distribusi ganda (double distribution) untuk alokasi biaya penunjang. Untuk tindakan yang variasinya tinggi seperti operasi, activity-based costing memberi hasil lebih akurat.

Berapa lama menyusun unit cost rumah sakit?
Tergantung kerapian data. Untuk rumah sakit dengan buku besar yang sudah dipecah per unit, model awal biasanya selesai dalam beberapa minggu. Kalau kode biaya belum per unit, waktu lebih banyak habis untuk membenahi data.

Seberapa sering unit cost perlu di-update?
Idealnya setiap tahun mengikuti laporan keuangan tahunan, dan setiap kali ada perubahan besar seperti penambahan gedung, alat mahal, atau kenaikan gaji.

Baca Juga

Ananta W. Sasongko, CPA, FMVA, FPAP

Penulis

Ananta W. Sasongko, CPA, FMVA, FPAP

CFO dan Direktur Keuangan, ex-EY. Certified Public Accountant (IAPI), FMVA® dan FPAP™ (CFI). Kandidat doktor ilmu akuntansi.