Cara Menghitung Valuasi Perusahaan Swasta: DCF, Multiple EBITDA, dan Diskon Likuiditas
Saat investor masuk atau perusahaan akan dijual, pertanyaan yang paling menentukan adalah berapa nilai perusahaan. Pemilik sering punya angka di kepala, investor punya angka sendiri, dan jaraknya bisa jauh. Memahami cara valuasi dihitung membantu Anda bernegosiasi dengan dasar yang sama.
Tim FA Indonesia menjelaskan dua metode yang paling sering dipakai untuk perusahaan swasta, lalu menunjukkan contoh perhitungan. Semua angka dalam contoh adalah ilustrasi, bukan patokan untuk sektor tertentu.
Enterprise Value dan Equity Value
Dua istilah ini sering tertukar. Enterprise value adalah nilai bisnis operasional, terlepas dari cara bisnis itu dibiayai. Equity value adalah bagian yang menjadi milik pemegang saham. Hubungannya sederhana:
- Equity value = enterprise value dikurangi utang bersih.
- Utang bersih = utang berbunga (bank, leasing, pinjaman pemegang saham yang berbunga) dikurangi kas.
Karena itu, perusahaan dengan EBITDA sama tetapi utang lebih besar akan memiliki equity value lebih kecil.
Langkah Pertama: Normalisasi EBITDA
Sebelum menghitung apa pun, EBITDA perlu dinormalisasi agar mencerminkan laba bisnis yang berulang. Contoh ilustrasi untuk PT Contoh:
| Pos (Ilustrasi, Rp miliar) | Nilai |
|---|---|
| EBITDA menurut laporan keuangan | 20,0 |
| Ditambah biaya perkara satu kali | 1,5 |
| Ditambah gaji anggota keluarga yang tidak aktif bekerja | 0,5 |
| Dikurangi penyesuaian sewa gedung pemilik ke harga pasar | (1,0) |
| EBITDA normal | 21,0 |
Selain pos di atas, penilai juga memeriksa apakah ada pendapatan yang hanya terjadi sekali, kontrak besar yang tidak diperpanjang, atau biaya yang selama ini ditanggung pemilik secara pribadi. Semua itu bisa menaikkan atau menurunkan EBITDA normal.
Penyesuaian harus didukung bukti. Penyesuaian yang tidak bisa dibuktikan biasanya ditolak pembeli saat due diligence.
Metode Multiple EBITDA
Metode ini mengalikan EBITDA normal dengan kelipatan dari perusahaan atau transaksi pembanding. Pada contoh ilustrasi:
- Multiple ilustrasi 6 kali, sehingga enterprise value = 6 x Rp21,0 miliar = Rp126,0 miliar.
- Utang bank Rp30,0 miliar dan kas Rp6,0 miliar, sehingga utang bersih Rp24,0 miliar.
- Equity value = Rp126,0 miliar dikurangi Rp24,0 miliar = Rp102,0 miliar.
Kelemahannya, pemilihan pembanding sangat menentukan. Multiple perusahaan tercatat di bursa tidak bisa langsung dipakai untuk perusahaan swasta kecil tanpa penyesuaian ukuran, pertumbuhan, dan likuiditas.
Metode DCF
Discounted cash flow menghitung nilai kini dari arus kas bebas yang diproyeksikan. Pada contoh ilustrasi, arus kas bebas lima tahun diproyeksikan Rp10, Rp11, Rp12, Rp13, dan Rp14 miliar, dengan tingkat diskonto (WACC) 14% dan pertumbuhan jangka panjang 4%.
- Nilai kini arus kas lima tahun sekitar Rp40,3 miliar.
- Nilai terminal tahun kelima = Rp14 miliar x 1,04 dibagi (14% dikurangi 4%) = Rp145,6 miliar, dengan nilai kini sekitar Rp75,6 miliar.
- Enterprise value sekitar Rp115,9 miliar, dan equity value setelah utang bersih sekitar Rp91,9 miliar.
Kunci DCF ada pada proyeksi. Proyeksi yang kredibel berangkat dari kinerja historis, kapasitas yang ada, dan rencana investasi yang realistis. Kebutuhan belanja modal dan modal kerja harus dikurangkan dari arus kas, karena pertumbuhan pendapatan hampir selalu membutuhkan tambahan dana. Tingkat diskonto mencerminkan risiko: biaya utang setelah pajak dan biaya ekuitas yang biasanya lebih tinggi untuk perusahaan swasta berskala kecil.
DCF sangat sensitif terhadap asumsi. Perubahan WACC satu atau dua poin persentase bisa menggeser nilai secara signifikan, sehingga analisis sensitivitas wajib disertakan.
Diskon Likuiditas (DLOM) dan Rekonsiliasi Nilai
Saham perusahaan swasta tidak bisa dijual secepat saham di bursa. Karena itu, bila nilai diturunkan dari pembanding perusahaan tercatat, penilai sering menerapkan discount for lack of marketability (DLOM). Dengan DLOM ilustrasi 20%, equity value metode multiple menjadi Rp102,0 miliar x 80% = Rp81,6 miliar.
| Metode (Ilustrasi) | Equity Value |
|---|---|
| Multiple EBITDA sebelum DLOM | Rp102,0 miliar |
| Multiple EBITDA setelah DLOM 20% | Rp81,6 miliar |
| DCF | Rp91,9 miliar |
Besaran DLOM bukan angka baku. Penilai mempertimbangkan ukuran perusahaan, kebijakan dividen, rencana IPO atau penjualan dalam waktu dekat, serta hak pemegang saham dalam anggaran dasar.
Hasil akhir biasanya berupa rentang, misalnya sekitar Rp82 sampai Rp92 miliar pada contoh ini, bukan satu angka. Hati-hati agar diskon tidak dihitung dua kali, misalnya bila WACC sudah memasukkan premi risiko perusahaan kecil.
Dalam praktik negosiasi, rentang ini menjadi titik awal. Faktor lain seperti struktur pembayaran bertahap, earn-out, porsi saham yang dijual, dan hak kendali yang diperoleh investor bisa membuat harga final bergerak naik atau turun. Saham mayoritas dengan hak kendali umumnya dinilai berbeda dibanding saham minoritas.
Kapan Perlu Penilai Independen
Valuasi internal cukup untuk negosiasi awal. Untuk transaksi yang melibatkan perusahaan terbuka, pembiayaan bank tertentu, atau kebutuhan hukum dan pajak, biasanya diperlukan laporan KJPP. Di pasar modal, penilaian bisnis mengacu pada POJK 35/POJK.04/2020. Lihat kapan perusahaan butuh KJPP dan contoh sektoral di valuasi rumah sakit swasta.
Tim FA Indonesia membantu menyusun normalisasi EBITDA, model DCF, dan analisis pembanding sebagai bahan negosiasi dengan investor atau pembeli, lalu berkoordinasi dengan KJPP bila laporan penilaian resmi diperlukan. Informasi lebih lanjut ada di halaman mitra investor dan penjual.
Ingin tahu kisaran nilai perusahaan Anda sebelum bertemu investor? Ceritakan kondisi perusahaan Anda kepada kami. Diskusi awal gratis.
Pertanyaan Umum
Apa beda enterprise value dan equity value?
Enterprise value adalah nilai bisnis operasional. Equity value adalah nilai bagi pemegang saham, yaitu enterprise value dikurangi utang bersih.
Metode valuasi mana yang paling tepat untuk perusahaan swasta?
Umumnya dipakai lebih dari satu metode, misalnya DCF dan multiple EBITDA, lalu hasilnya direkonsiliasi menjadi rentang nilai.
Berapa multiple EBITDA yang wajar?
Tidak ada angka tunggal. Multiple bergantung pada sektor, ukuran, pertumbuhan, risiko, dan kondisi pasar. Angka 6 kali di artikel ini hanya ilustrasi.
Apa itu DLOM?
Discount for lack of marketability, yaitu diskon karena saham perusahaan swasta tidak mudah dijual seperti saham di bursa.
Apakah valuasi internal bisa dipakai untuk transaksi resmi?
Untuk negosiasi awal bisa. Untuk kebutuhan pasar modal, hukum, atau pembiayaan tertentu biasanya diperlukan laporan KJPP.
Baca Juga
- Untuk Investor dan Penjual
- Valuasi Rumah Sakit Swasta
- Kapan Perusahaan Butuh KJPP
- Cara Menjual Perusahaan atau Sebagian Saham
Sumber
- OJK: POJK 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
- OJK: SEOJK 17/2020 Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis
Cek Kredit dan Pendanaan Gratis untuk Perusahaan
Hitung DSCR, plafon kredit per suku bunga dan tenor, serta jalur IPO BEI dalam 3 menit.
Mulai Hitung KAP Murah, Apakah Bijak?
Penulis
Dr. (C) Ananta W. Sasongko, S.E., M.S.A., Ak., CPA, CTT, FMVA, FPAP
CFO dan Direktur Keuangan, ex-EY. Certified Public Accountant (IAPI), FMVA® dan FPAP™ (CFI). Kandidat doktor ilmu akuntansi.