Cara Menghitung WACC dan Valuasi DCF Perusahaan di Indonesia, Langkah Demi Langkah dengan Contoh Angka
Investor, pembeli saham, dan penjamin emisi hampir selalu meminta valuasi DCF di samping multiple EBITDA. Artikel ini menjalankan contoh lengkap untuk perusahaan swasta Indonesia dengan pendapatan Rp100 miliar, supaya pemilik usaha tahu asumsi mana yang paling menentukan angka akhirnya.
Langkah 1: Proyeksi Free Cash Flow to Firm (FCFF)
FCFF = EBIT x (1 - tarif pajak) + penyusutan - capex - kenaikan modal kerja. Dengan margin EBITDA 15%, penyusutan 3% pendapatan, capex 4%, kenaikan modal kerja 2%, dan pajak 22%, FCFF tahun pertama sekitar Rp9,4 miliar. Proyeksikan 5 tahun dengan pertumbuhan yang bisa dipertanggungjawabkan, misalnya 10% menurun ke 6%.
Langkah 2: Biaya Ekuitas dengan CAPM
Biaya ekuitas = Rf + beta x premi risiko pasar + premi ukuran dan likuiditas. Rf memakai imbal hasil SUN 10 tahun (sekitar 6,5% sampai 7%). Premi risiko pasar Indonesia umumnya 6% sampai 8%. Beta sektor dari perusahaan tercatat sejenis, di-relever sesuai struktur utang. Untuk perusahaan swasta menengah, premi ukuran dan likuiditas 2% sampai 5% lazim ditambahkan. Hasilnya biaya ekuitas sekitar 16% sampai 20%.
Langkah 3: WACC
WACC = porsi ekuitas x biaya ekuitas + porsi utang x biaya utang x (1 - pajak). Dengan 70% ekuitas berbiaya 17% dan 30% utang berbunga 11%, WACC = 11,9% + 2,6% = 14,5%. Porsi memakai nilai pasar atau target struktur modal, bukan nilai buku.
Langkah 4: Nilai Terminal
Nilai terminal = FCFF tahun ke-6 / (WACC - g). Dengan g 3%, FCFF tahun ke-6 Rp14 miliar, nilai terminal = Rp14 miliar / 11,5% = Rp122 miliar, lalu didiskonto 5 tahun ke nilai kini. Nilai terminal biasanya 60% sampai 80% dari total; karena itu g harus konservatif, tidak melebihi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Langkah 5: Dari Enterprise Value ke Equity Value
Jumlahkan nilai kini FCFF 5 tahun dan nilai terminal, itulah enterprise value, dalam contoh sekitar Rp100 miliar. Kurangi utang berbunga, tambahkan kas: dengan utang bersih Rp20 miliar, equity value Rp80 miliar. Dibagi jumlah saham, didapat nilai per saham.
Langkah 6: Uji Sensitivitas
Buat tabel WACC 12% sampai 17% terhadap g 2% sampai 4%. Rentang nilai yang muncul, misalnya Rp65 sampai Rp110 miliar, lebih jujur daripada satu angka dan menjadi dasar negosiasi.
Hitung Otomatis
Kalkulator Valuasi DCF dan WACC FA Venus menjalankan keenam langkah dengan tabel sensitivitas. Untuk transaksi resmi, kredit, atau IPO, laporan penilaian KJPP tetap diperlukan; tim FA membantu menyiapkan model dan mendampingi sampai penilai.
Pertanyaan Umum
DCF atau multiple EBITDA, mana yang dipakai investor?
Keduanya. DCF menguji nilai dari arus kas sendiri; multiple membandingkan dengan transaksi sejenis. Angka yang disepakati biasanya di antara keduanya.
Berapa WACC yang wajar untuk UMKM dan perusahaan menengah?
Umumnya 14% sampai 20% karena premi ukuran dan likuiditas. Perusahaan besar tercatat bisa 9% sampai 12%.
Apakah valuasi DCF diterima bank?
Bank lebih melihat kemampuan bayar (DSCR) dan agunan. DCF berguna untuk investor, jual beli saham, dan IPO.
Apa bedanya FCFF dan FCFE?
FCFF adalah arus kas untuk seluruh penyedia modal, didiskonto dengan WACC menghasilkan enterprise value. FCFE adalah arus kas untuk pemegang saham setelah utang, didiskonto dengan biaya ekuitas menghasilkan equity value langsung.
Baca Juga
- Kalkulator Valuasi DCF
- Valuasi Perusahaan Swasta: DCF vs Multiple EBITDA
- Jasa Valuasi Usaha
- Kalkulator Valuasi Rumah Sakit
Sumber
Cek Kredit dan Pendanaan Gratis untuk Perusahaan
Hitung DSCR, plafon kredit per suku bunga dan tenor, serta jalur IPO BEI dalam 3 menit.
Mulai Hitung KAP Murah, Apakah Bijak?
Penulis
Dr. (C) Ananta W. Sasongko, S.E., M.S.A., Ak., CPA, CTT, FMVA, FPAP
CFO dan Direktur Keuangan, ex-EY. Certified Public Accountant (IAPI), FMVA® dan FPAP™ (CFI). Kandidat doktor ilmu akuntansi.